Dedi Mulyadi Lakukan Abuse Of Power

baraNews Jabar Online

- Redaksi

Sabtu, 22 Februari 2025 - 08:20 WIB

50528 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis :
Aktifis Hukum Jawa Barat: Fidelis Giawa , SH.

Sesaat setelah Kang Dedi Mulyadi (KDM) dilantik sebagai Gubernur, mengambil langkah tegas dengan memecat Kepala SMA 6 Depok karena sekolah tersebut tetap menjalankan kegiatan Studi Tour padahal telah dihimbau melalui surat edaran Sekretaris Daerah untuk ditunda.

Tindakan KDM selaku Gubernur ini bisa jadi sah menurut sudut pandang ilmu pemerintahan, tapi bisa jadi juga tak sah dari sudut pandang kepegawaian karena tidak didahului dengan peringatan atau klarifikasi atau mekanisme prosedur lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya tidak membahas hal ini dari sudut pandang legal formal melainkan dari sudut pandang moral kekuasaan. Pemecatan Kepala SMA 6 Depok tersebut dapat dipandang sebagai moral abuse, sebagai kesewenangan.

KDM sering dipanggil oleh rakyat yang bersimpati padanya sebagai Bapa Aing. Di sisi lain, KDM selalu mengedepankan adab dan budaya sunda sebagai spirit kepemimpinannya. Maka pertanyaan selanjutnya adalah, apakah tindakan KDM memecat seorang Kepala Sekolah hanya beberapa saat setelah dirinya dilantik, telah mencerminkan sikap seorang Bapak dan mencerminkan spirit sunda yang silih asih, silih asah dan silih asuh??? Jika saya yang diminta menilai maka saya akan terus terang mengatakan bahwa tidak ada spirit kebapakan dan spirit kesundaan dalam tindakan KDM tersebut.

Tindakan KDM tersebut lebih mencerminkan sikap kaisar otoriter jaman kegelapan yang mengeksekusi pelanggaran dan pembangkangan di hadapan publik, yang dalam konteks hari ini tidak dilakukan di di lapangan terbuka melainkan di media sosial yang jangkauan pertontonannya lebih luas dan massif. Bagi si terhukum atau penerima sanksi, pemberian sanksi ini adalah pameran penjatuhan martabat di hadapan publik, bukan sekedar penerimaan konsekuensi pertanggungjawaban. Dimana sikap kebapakab dan spirit silih asih, silih asah dan silih asuh kalau cara penjatuhan sanksi nya seperti ini??

Publik memang sangat mudah teriring untuk mendukung keterbukaan, termasuk dalam cara KDM membongkar tradisi jahat dan maling yang telah jadi penyakit kronis di tubuh birokrasi pemerintahan kita. Publik terhipnosis dengan langkah terbuka KDM mengevaluasi skema penganggaran yang mubazir seperti anggaran ganti kabel dan bohlam di mata anggaran Disdik Prov Jabar. Namun dibalik euphoria dukungan publik itu jangan sampai mendistorsi semangat kerja dan pengabdian. Gerakan KDM bukan menyuntikkan spirit pembaharu birokrasi yang bersih malah menghasilkan personel birokrat yang cari aman malas berinovasi dan enggan mengambil keputusan karena khawatir dipermalukan di depan publik.

KDM mesti mencoba merefleksi gaya populis Ganjar Pranowo saat jadi Gubernur Jateng periode pertama dimana dia membuat konten video saat melakukan sidak tertutup di jembatan timbang. Publik memberi dukungan tapi di balik layar, para birokrat ASN melakukan boikot diam diam sehingga ganjar mengubah style kepemimpinannya. Publik tak ada yang bertanya kenapa Ganjar Pranowo pada periode kedua sebagai gubernur Jateng tak mengekspos vulgar upaya kontrol dan pemberian sanksi kepada aparatur birokrat Pemprov Jateng. Dari informasi yang saya dengar adalah bahwa gaya atau style ganjar yang men-judge anak buah di depan publik (melalui konten) tak berkenan di hati para birokrat dan tentunya senafas dengan kultur masyarakat Jawa Tengah.

Nah, penjatuhan sanksi yang cepat dan keras kepada Kepala SMA Negeri 6 Depok, tak menutup kemungkinan menjadi kontra produktif dari niat KDM untuk ‘merevolusi’ mental birokrat, karena tidak cara yang terlalu menggebu dan lepas dari spirit kultur sunda silih asih, silih asah silih asuh.

Apa yg dilakukan adalah tindakan pemerintahan yang mungkin saja sah atau legal, tetapi tindakan tersebut telah cacat secara moral. Tindakan pemberian sanksi tersebut lebih terlihat sebagai pamer kekuasaan dari pada pemberian efek jera.

Sebelum terlambat dan bergulir menjadi gerakan pembangkangan birokrat, ada baiknya KDM melakukan refleksi dan mengurangi pamer tindakan pemerintahannya melalui medaos. Keterbukaan itu penting tapi tak semua hal harus dipamer dan dilakukan secara terbuka, sama halnya bahwa setiap suami istri pasti melakukan dan pantas melakukan persetubuhan tapi kan tak perlu diceritakan kepada publik bahwa persetubuhan itu telah dilakukan.

Demikian, semoga tulisan ini berkenan di hati KDM

Berita Terkait

Sinergi Summarecon, Kecamatan Gedebage dan ITB Kembangkan Inovasi Pengolahan Jerami untuk Atasi Polusi Asap di Gedebage
Warga Bandung yang Tinggal di wilayah rentan rawan pangan dan Berisiko Stunting Dapat Bantuan Pangan (Pangersa)
DPRD Kota Bandung sukses menggelar Rapat Paripurna dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216
HADIR DI TENGAH KRISIS AIR, PERUMDA TIRTAWENING SALURKAN BANTUAN AIR TANGKI
Rizky Mediantoro Resmi Jabat Dirut Perumda Tirtawening Bandung, Fokus Integrasi Keuangan
Wali Kota Instruksikan Manajemen Baru PDAM Tirtawening Konsolidasi Keuangan
DPRD Dukung Penuh Upaya Pemkot Bandung Untuk Mempercepat Penanganan Sampah
Walikota Bandung Muhammad Farhan Gaet Investor Menuju Target Investasi Rp.12 Triliun

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:59 WIB

Kapolres Toraja Utara Melaksanakan Kegiatan Kumpul Bersama Masyarakat di 2 Lokasi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:59 WIB

Satgas TMMD 130/Kodim 1416/Mu a Secara “door to door” Periksa Kesehatan Warga Kawite-wite

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:55 WIB

Gagalkan Perlintasan Ilegal, Satgas Pamtas Yonarmed 13/Nanggala Amankan 5 Calon Pekerja Migran Non-Prosedural di Perbatasan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:39 WIB

Prof Dr Sutan Nasomal Harapkan Presiden RI Supaya Perintahkan APH Sidik Kasus Keracunan MBG Yang Bermain Kotor Tangkap Adili Agar Ada Keadilan Itu Nyata Di SMPN 2 Cisarua Bogor!!!

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:29 WIB

Satpas Polres Cimahi Pangkas Waktu Tunggu SIM hingga 35 Persen, Layanan Digital Diperkuat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:58 WIB

Sinergi Summarecon, Kecamatan Gedebage dan ITB Kembangkan Inovasi Pengolahan Jerami untuk Atasi Polusi Asap di Gedebage

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:23 WIB

Paguyuban Sunda Galuh Perkuat pelestarian Budaya Lewat Sunda Sabuana Award 2026 dan Pengukuhan Dewan Adat Sunda

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:26 WIB

Warga Bandung yang Tinggal di wilayah rentan rawan pangan dan Berisiko Stunting Dapat Bantuan Pangan (Pangersa)

Berita Terbaru