Menggali Filosofi, Sejarah, dan Relevansi Budaya Sunda di Era Modern Membaca Waktu, Menjaga Harmoni Kehidupan: Miranda H. Wihardja Ungkap Filosofi Kalender Sunda dan Relevansinya di Era Modern Tornado, Sapi Qurban Berbobot Lebih dari 1,2 Ton Milik Irfan Hakim Jadi Perhatian Warga di Masjid Al Jihad Bandung Penghargaan Kadeudeuh Atlet Kota Bandung 2026 Digelar Meriah, Bentuk Apresiasi bagi Atlet Berprestasi Merasa Dirugikan dalam Transaksi Mobil, Rere Tempuh Jalur Hukum dan Minta Pendampingan Kuasa Hukum
Beranda
Bandung, Baranewsjabar.com – Pelestarian budaya lokal tidak hanya sebatas menjaga tradisi dan kesenian, tetapi juga merawat pengetahuan leluhur yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Hal tersebut disampaikan oleh Miranda H. Wihardja, Dewan Pembina Pendiri Yayasan BEST DAYA (Bengkel Studi Budaya) sekaligus pengelola Sistem Penggalan Tradisional Kalender Sunda, dalam wawancara terkait kegiatan Ritual Pengetahuan Cerdas Berbudaya Tumpek Wage Kartika 1963 Hurang Tembey.
Bertempat di Savoy Homann Sabtu 30
Mei 2026.
Menurut Miranda, Kalender Sunda merupakan warisan intelektual masyarakat Sunda yang telah digunakan sejak masa kerajaan-kerajaan Sunda sebagai pedoman dalam membaca waktu, menentukan aktivitas sosial, pertanian, hingga menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam.
“Kalender Sunda bukan sekadar alat penanggalan, melainkan sistem pengetahuan yang mengajarkan manusia memahami siklus kehidupan, mengenali perubahan alam, serta menempatkan diri secara harmonis di tengah semesta,” ujar Miranda.
Ia menjelaskan bahwa tahun 1963 Caka Sunda yang saat ini digunakan merupakan bagian dari sistem perhitungan waktu yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki landasan filosofis yang kuat dalam kebudayaan Sunda.
Terkait nama tahun Hurang Tembey, Miranda menerangkan bahwa setiap pergantian tahun dalam Kalender Sunda memiliki simbol dan makna tertentu sebagai refleksi perjalanan kehidupan manusia dan masyarakat.
“Penamaan tahun bukan sekadar identitas waktu, tetapi mengandung pesan moral dan nilai-nilai yang dapat dijadikan bahan introspeksi serta pedoman dalam menjalani kehidupan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Miranda juga mengulas makna tema kegiatan ‘Membaca Waktu Menjaga Harmoni Kehidupan dengan Kesadaran’. Menurutnya, masyarakat modern sering kali terjebak dalam kecepatan perubahan zaman hingga melupakan pentingnya kesadaran terhadap waktu dan lingkungan sekitar.
“Membaca waktu dalam filosofi Sunda bukan hanya mengetahui tanggal dan hari, tetapi memahami momentum kehidupan, mengenali tanda-tanda alam, serta mengambil keputusan dengan penuh kebijaksanaan,” katanya.
Tema besar ‘Dari Taun Sato Menuju Taun Manusa’ juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas kesadaran diri.
“Taun Sato melambangkan dominasi naluri, sedangkan Taun Manusa mengajarkan peningkatan kesadaran, akal budi, tanggung jawab sosial, dan kemanusiaan. Ini adalah perjalanan menuju kehidupan yang lebih beradab dan seimbang,” ungkap Miranda.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa leluhur Sunda sejak dahulu memanfaatkan kalender sebagai pedoman dalam bercocok tanam, menjaga lingkungan, mengatur kehidupan sosial, hingga menentukan berbagai momentum penting dalam kehidupan masyarakat.
“Hubungan manusia dengan alam dalam pandangan Sunda bersifat saling menjaga. Alam bukan objek yang dieksploitasi, tetapi mitra kehidupan yang harus dihormati dan dirawat bersama,” tuturnya.
Melalui kegiatan Ritual Pengetahuan Cerdas Berbudaya Tumpek Wage Kartika 1963 Hurang Tembey, Miranda berharap masyarakat semakin mengenal dan memahami nilai-nilai budaya Sunda yang sarat dengan kebijaksanaan lokal.
“Pelestarian budaya bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan mengambil nilai-nilai luhur yang masih relevan untuk menjawab tantangan masa kini dan masa depan,” katanya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk aktif mempelajari budaya daerahnya sebagai bagian dari identitas bangsa.
“Jika generasi muda mengenal akar budayanya, maka mereka akan memiliki fondasi yang kuat dalam menghadapi perkembangan zaman. Kalender Sunda adalah salah satu warisan pengetahuan yang patut dipelajari dan dilestarikan bersama,” pungkas Miranda H. Wihardja.
Kegiatan Ritual Pengetahuan Cerdas Berbudaya Tumpek Wage Kartika 1963 Hurang Tembey diharapkan menjadi ruang edukasi budaya yang mampu memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, waktu, dan kehidupan.ungkap nya.*(Imas)










































