Menyeberang ke Pulau Mercusuar Santolo: Dari Deru Perahu Hingga Gurihnya Ikan Bakar Lesehan

REDAKSI BANDUNG

- Redaksi

Minggu, 6 September 2026 - 22:16 WIB

5057 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garut, Baranewsjabar.Com // ​Angin laut Garut Selatan bertiup kencang, membawa aroma asin air laut dan riak gelombang yang berkejaran di Pantai Santolo, Kecamatan Cikelet. Di tepi muara, deretan perahu kayu bercat jingga dan biru berjejer rapi, menunggu para pelancong yang hendak menyeberang menuju pulau kecil—tempat berdiri kokoh sebuah mercusuar tua peninggalan masa lalu kolonial Belanda.

​” Nelayan menawarkan naik perahu, Mari, A, bu, cuma lima ribu per orang buat seberang ke mercusuar, kalau keliling pantai duapuluh ribu per orang,” teriak Kang Asep (42), salah seorang pengemudi perahu, seraya mengulurkan tangan membantu penumpang naik ke perahunya, bersama rekan Nelayan nya.

​Hanya butuh waktu sekitar 5 hingga 10 menit menembus alur muara yang terapit antara daratan utama Santolo dan pulau kecil mercusuar. Perjalanan singkat ini menawarkan ketenangan tersendiri; riak air yang terbelah haluan perahu menghadirkan sensasi petualangan kecil sebelum menjejakkan kaki di pulau bertanah karang tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Begitu perahu merapat di dermaga kayu pulau kecil, pemandangan berubah anggun. Bangunan mercusuar berdiri jangkung menatap Samudra Hindia. Namun, bukan cuma struktur beton tua itu yang memikat perhatian, melainkan kepulan asap tipis yang membubung dari sudut-sudut pulau, membawa aroma menggoda: gurihnya bumbu marimang dan manisnya kecap yang terbakar di atas bara batok kelapa.

​Di sekeliling area sekitar mercusuar, deretan pedagang lokal menjajakan kuliner khas pesisir. Mereka menyediakan karpet-karpet lesehan yang digelar langsung di atas saung bale-bale terbuat dari bambu, di bawah rindangnya pohon ketapang.

​Teh Imas (38), bersama suaminya Asep (45), salah satu pedagang ikan bakar yang telah bertahun-tahun berjualan di pulau ini, sigap mengipas bara api. Di depannya, ember-ember berisi hasil tangkapan nelayan lokal tersaji segar: mulai dari ikan tongkol, bawal laut, kakap merah, hingga cumi-cumi dan udang berukuran besar.

​”Ikan di sini semuanya segar, baru turun dari perahu nelayan tadi pagi. Paling favorit ya kakap bakar bumbu kecap pedas manis,” ujar Asep, sembari membalikkan seekor kakap merah di atas kisi-kisi pemanggangan.

​Sensasi menyantap ikan bakar di pulau mercusuar ini memang tiada dua. Pengunjung duduk bersila di atas tikar lesehan, menikmati sajian ikan bakar panas bersanding dengan sambal cabai kecap jahe mendadak, lalapan segar, buah apel, dan minuman teh tarik, Kelapa muda, aneka juice lainya, Setiap gigitan daging ikan yang lembut dan juicy makin sempurna ditemani suara deburan ombak yang menghantam benteng karang alami tak jauh dari tempat duduk.

​”Menyeberang ke sini rasanya beda dibanding cuma diam di pantai utama. Lebih tenang, terus makan ikan bakar sambil lesehan begini ditiup angin laut, nikmatnya berlipat-lipat,” ungkap Bu.Neneng (50), wisatawan asal Bandung yang datang bersama rekan – rekan untuk menikmati pesona Pantai Santolo, angin sepoi-sepoi yang bertiup lembut dari arah laut ke darat. Terasa sejuk dan membawa aroma khas laut. Suasana nyaman untuk bersantai dan menenangkan pikiran.

​Saat sore mulai menjelang dan matahari perlahan bergeser ke ufuk barat, siluet mercusuar memanjang di atas pasir. Senja di pulau kecil Santolo menawarkan perpaduan sempurna: jejak sejarah yang tenang, keramahan para pedagang lokal, dan lezatnya santapan laut yang membakar kenangan di ujung selatan Garut. *( Imas )

Berita Terkait

Kapolres Toraja Utara Melaksanakan Kegiatan Kumpul Bersama Masyarakat di 2 Lokasi
Satgas TMMD 130/Kodim 1416/Mu a Secara “door to door” Periksa Kesehatan Warga Kawite-wite
Gagalkan Perlintasan Ilegal, Satgas Pamtas Yonarmed 13/Nanggala Amankan 5 Calon Pekerja Migran Non-Prosedural di Perbatasan
KKP SESPIMMA ANGKATAN 76 POKJAR IV BAHAS SINERGI POLRI DAN DISPERINDAG JAGA STABILITAS HARGA BAPOK DI KABUPATEN BANDUNG
Pansus VI DPRD Kabupaten Bandung Koordinasi ke PDAM Tirtawening Kota Bandung Bahas Raperda Penyertaan Modal
Nakhoda Baru di Jalur Krusial: Rekam Jejak AKP Sudirianto Mengawal Lalu Lintas Karawang
Memeluk Kehangatan di Tengah Dinginnya Ciwidey, Menemukan Ketenangan di Emte Highland Resort
Merawat Akar Perjuangan: Mengobor Semangat SOKSI Jabar lewat Pancasila dan Kolaborasi Purnawirawan TNI

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:59 WIB

Kapolres Toraja Utara Melaksanakan Kegiatan Kumpul Bersama Masyarakat di 2 Lokasi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:59 WIB

Satgas TMMD 130/Kodim 1416/Mu a Secara “door to door” Periksa Kesehatan Warga Kawite-wite

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:55 WIB

Gagalkan Perlintasan Ilegal, Satgas Pamtas Yonarmed 13/Nanggala Amankan 5 Calon Pekerja Migran Non-Prosedural di Perbatasan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:39 WIB

Prof Dr Sutan Nasomal Harapkan Presiden RI Supaya Perintahkan APH Sidik Kasus Keracunan MBG Yang Bermain Kotor Tangkap Adili Agar Ada Keadilan Itu Nyata Di SMPN 2 Cisarua Bogor!!!

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:29 WIB

Satpas Polres Cimahi Pangkas Waktu Tunggu SIM hingga 35 Persen, Layanan Digital Diperkuat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:58 WIB

Sinergi Summarecon, Kecamatan Gedebage dan ITB Kembangkan Inovasi Pengolahan Jerami untuk Atasi Polusi Asap di Gedebage

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:23 WIB

Paguyuban Sunda Galuh Perkuat pelestarian Budaya Lewat Sunda Sabuana Award 2026 dan Pengukuhan Dewan Adat Sunda

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:26 WIB

Warga Bandung yang Tinggal di wilayah rentan rawan pangan dan Berisiko Stunting Dapat Bantuan Pangan (Pangersa)

Berita Terbaru