Tragis! Berebut Makanan Gratis di Pernikahan Anak Gubernur, Tiga Nyawa Melayang

BARA NEWS JABAR

- Redaksi

Minggu, 20 Juli 2025 - 07:27 WIB

50362 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GARUT – Tak disangka, kematian di negeri ini kini hadir dengan wajah yang lebih memilukan. Kali ini bukan karena perang, bukan pula karena bencana. Tapi karena berebut makanan gratis dalam pesta rakyat. Tiga nyawa melayang dalam hajatan pernikahan mewah yang seharusnya menjadi simbol kegembiraan dan kemakmuran, justru berubah menjadi arena maut yang menyayat nurani.

Peristiwa mengenaskan ini terjadi di Pendopo Kabupaten Garut pada Jumat, 18 Juli 2025, dalam rangkaian pesta rakyat menyambut pernikahan anak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Maula Akbar Mulyadi Putra, dengan Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina. Ribuan warga memadati area pendopo untuk mendapatkan makanan gratis yang dibagikan sebagai bentuk “syukuran”. Namun, alih-alih merasakan kegembiraan, kerumunan berubah menjadi kekacauan. Titik pembagian yang minim, sistem pengamanan yang amburadul, dan ketidaksiapan panitia menelan korban jiwa. Dua warga sipil dan satu anggota polisi tewas dalam tragedi tersebut.

Ini bukan pertama kalinya rakyat Indonesia meregang nyawa karena berebut sesuatu yang sifatnya kebutuhan pokok. Tapi kematian dalam konteks pesta pernikahan pejabat tinggi daerah adalah babak baru dari nomenklatur mengenaskan yang dicatat sejarah. Biasanya tragedi semacam ini terjadi saat pembagian sembako, daging qurban, atau saat kapal tenggelam karena kelebihan muatan. Kini, rakyat mati hanya untuk sepiring nasi di tengah hingar bingar pesta kekuasaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peristiwa ini bukan hanya tragedi sosial, tapi juga tamparan keras bagi seluruh pejabat publik yang selama ini memamerkan kemurahan hati dengan cara-cara kuno yang mengundang petaka. Di tengah angka kemiskinan yang terus membelit dan krisis ekonomi yang menghantui, rakyat seolah dipaksa mengantre maut demi sesuap nasi. Di mana peran protokoler? Di mana tanggung jawab kepolisian? Dan yang terpenting: di mana nurani para pemilik hajat?

Izin keramaian yang biasanya diurus melalui kepolisian menjadi formalitas belaka. Tidak ada pengawasan ketat, tidak ada simulasi darurat, tidak ada evaluasi risiko. Padahal, setiap tahun tragedi serupa terjadi. Tapi penguasa seolah abai. Apakah nyawa rakyat tak lebih penting dari pesta dan pencitraan?

Apakah benar rakyat negeri ini sudah sedemikian miskin hingga rela bertaruh nyawa demi mengganjal perut yang lapar? Apakah benar di balik setiap musik dangdut dan tenda pesta pejabat, ada rakyat yang meringkuk menahan lapar? Kematian di Garut ini bukan hanya akibat kesalahan teknis, tapi akibat dari sistem yang menormalisasi kemiskinan dan menjadikan empati sebagai panggung politik.

Pemerintah pusat maupun daerah tak bisa lepas tangan. Ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah akibat langsung dari gagalnya pengelolaan keramaian, gagalnya memahami kondisi sosial, dan gagalnya menyadari bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik.

Tragedi ini harus menjadi yang terakhir. Tidak boleh lagi rakyat Indonesia mati hanya karena ingin makan. Jangan lagi pesta kekuasaan disulap menjadi peristiwa duka nasional. Jika negara tak segera berbenah, jangan salahkan rakyat jika kelak kehilangan kepercayaan pada semua bentuk kemewahan yang diperlihatkan dari atas panggung. Sebab bagi mereka yang hidup dari sisa-sisa nasi bungkus, keadilan sosial bukan hanya slogan, tapi soal hidup dan mati. (*)

Berita Terkait

Lebih Mudah, Bayar Pajak Kendaraan Bermotor Cukup STNK Tanpa KTP Pemilik Pertama*
PENANGANAN KASUS KERACUNAN MBG
Bandung Jadi Pusat Inovasi dan Kolaborasi di IFBEX 2026
Didi Garnadi, Kepala Dinas DPUTR Purwakarta yang ‘Arogan’: Warga Kecewa dengan Sikapnya
Camat Bandung Wetan ‘Meledak’, Musrenbang di Hotel Grandia Jadi Kontroversi!
Warga Sridadi Protes Biaya Pemindahan Tiang PLN
Kasus Pengeroyokan Anggota DPRD Bekasi, JPDN dan GBR Kawal Proses Hukum ‎
Jaga Kebersihan dan Drainase, Kecamatan Lembang Lakukan Penataan PKL Secara Bertahap

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 16:10 WIB

Budaya Bukan Cuma Seremoni: Pesan KAA dari Savoy Homan

Minggu, 8 Maret 2026 - 20:00 WIB

POSKAB Sapu Jagat Gelar Berbagi Takjil dan Santunan Anak Yatim

Kamis, 25 Desember 2025 - 16:55 WIB

Lapas Kelas IIA Cikarang Berikan Remisi Khusus Natal 2025 kepada 41 Warga Binaan

Kamis, 25 Desember 2025 - 16:51 WIB

Polsek Cikarang Timur Dirikan Pos Pelayanan Nataru 2025 di Sejumlah Objek Wisata

Rabu, 24 Desember 2025 - 11:43 WIB

Polri Hadir Berbuat Bermanfaat, Polsek Cikarang Timur Laksanakan Yanmas Pagi dan Gatur Lalin di Sejumlah Titik Rawan

Rabu, 24 Desember 2025 - 00:33 WIB

Ratusan Ojol Daftar BPJS Ketenagakerjaan di Balai Kota Depok

Rabu, 24 Desember 2025 - 00:15 WIB

Kapolsek Sekayam AKP Sutikno Akui 3 Anggotanya Terlibat PETI di Malenggang, 1 Diusulkan Dimutasi

Selasa, 23 Desember 2025 - 23:12 WIB

Unit Samapta Polsek Cikarang Timur Intensifkan Patroli Kewilayahan Jelang Libur Natal dan Tahun Baru

Berita Terbaru

Daerah

Budaya Bukan Cuma Seremoni: Pesan KAA dari Savoy Homan

Minggu, 19 Apr 2026 - 16:10 WIB

Bandung

*Chandra Gautama Jembatani Tradisi lewat Aing Kabayan*

Sabtu, 4 Apr 2026 - 19:29 WIB

Bandung

Asep Robin: Legalitas Cagar Budaya Cikadut Harus Kuat  

Senin, 30 Mar 2026 - 23:39 WIB